sosiologi.fisip.unpad.ac.id, 3/1/20233, 2:46 PM
Sejumlah mahasiswa Program Studi Sosiologi, melalui implementasi Outcome Based Education, dalam mata kuliah Psikologi Sosial, melakukan sejumlah proyek sosial yang bertujuan untuk mengkonstruksi perubahan perilaku. Pembina mata kuliah ini, yang sekaligus ketua program Studi Sosiolog, Dr. Hery Wibowo S.Psi., MM menjelaskan bahwa Mata Kuliah ini memberikan penguatan pemahaman tentang unsur/aspek individu dalam masyarakat. Hal ini merupakan bekal bagi mahasiswa sosiologi untuk lebih dalam memahami hal ihwal tentang individu dengan segala pola pikir, pola sikap dan pola perilakunya sebagai unit terkecil pembentuk masyarakat.
Maka dalam Mata Kuliah ini, mahasiswa belajar untuk membangun upaya konstruksi perubahan perilaku individu, ke arah yang lebih positif bagi individu itu sendiri dan keluarga serta lingkungan sosial terdekatnya. Salah projek mahasiswa yang kontekstual dengan kondisi hari ini adalah projek melawan kecanduan pornografi dan pornoaksi, yang diberi nama proyek Lawan Candu Baru.
Salma, salah satu anggota dari kelompok Lawan Candu Baru, menjelaskan bahwa “Lawan candu baru adalah sebuah platform akun sosial media yang memiliki orientasi untuk merekonstruksi perilaku (khususnya remaja), supaya tidak terjerumus dan kecanduan pornografi”.
Selanjutnya dijelaskan bahwa “Kami menyadari, bukanlah hal yang mudah dan sebentar untuk melakukan suatu rekonstruksi perilaku. Kesadaran akan bahaya dan dampak dari suatu kegiatan atau candu merupakan langkah awal untuk mengubah mindset seseorang. Apabila mindset seseorang telah berubah, maka selanjutnya akan terlihat dari bagaimana orang itu bertindak dan berkomitmen untuk merubah perilakunya secara kontinu.
Selanjutnya ditegaskan oleh Hery bahwa pengenalan aspek individu sebagai unit terkecil pembentuk masyarakat menjadi penting, karena sukses pembangunan atau secara khusus pembangunan sosial adalah akumulasi dari etos dan kinerja terbagi individu warga negara.
Disadari bersama bahwa tidak mudah membangun perilaku baik di zaman ataupun peradaban masyarakat 5.0, dimana kecanggihan internet dan ragam pengaruh melalui media sosial mudah dijangkau generasi muda). Maka upaya untuk mengatasi dampak ataupun implikasi negatif dari kondisi ini, juga memerlukan atensi dan usaha khusus, disertai dengan strategi yang mampu menjangkau target sasaran. Instagram dipilih sebagai media utama karena saat ini sedang menjadi salah satu media sosial utama yang dijadikan referensi prioritas remaja Indonesia, sehingga diharapkan programnya menjadi.
Terkait hal ini, Salma menegaskan “Oleh karena itu, kami berupaya untuk mengedukasi para remaja di Indonesia melalui sosial media sebagai bentuk dari social campaign juga agar informasi yang kami sampaikan bisa menjangkau “pasar” yang lebih luas dan kami pun mengajak para remaja atau pengikut sosial media kami untuk berkomitmen untuk melawan candu baru (pornografi) secara digital melalui sign virtual yang kami adakan melalui snapgram. 🙏