Dinamika sosial yang terjadi pada masyarakat menimbulkan perubahan. Salah satunya mata pencaharian masyarakat di pedesaan saat ini yang cenderung beralih ke arah industri. Perubahan tersebut terjadi karena kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat serta kemampuan masyarakat untuk melakukan penyesuaian terkait dengan tuntutan zaman relatif terjangkau. Hal ini pula yang terjadi pada masyarakat di Desa Warjabakti, Kecamatan Cimaung Haruman- Bandung. Masyarakat di Desa Warjabakti memiliki aset utama yang dapat dikemas menjadi produk wisata. Aset utama dari desa ini salah satunya yaitu sektor pertanian. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan tata lingkungan sebagai objek tujuan wisata, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemeliharaan lingkungan.
Berlatar belakang kondisi tersebut, Mahasiswa Sosiologi Universitas Padjadjaran, pada tanggal 20 Desember 2015 melakukan kegiatan lapangan di Desa Warjabakti. Melalui kegiatan yang terintegrasi dengan mata kuliah praktikum V ini, mahasiswa belajar langsung bersama masyarakat untuk mengkaji mengenai permasalahan dan potensi apa saja yang terdapat di Desa Warjabakti, Kecamatan Cimaung Haruman- Bandung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji beberapa literatur yang berkaitan dengan pembangunan komunitas serta menggunakan teknik PRA (Participatory Rural Apraisal).
Berdasarkan observasi lapangan, Desa Warjabakti memiliki lahan yang subur, sehingga dapat ditanami tanaman sayuran dan kopi. Status kepemilikan lahannya, sebagian lahan pertanian adalah milik warga asli, dan sebagian lainnya milik Perhutani.Lahan milik warga biasanya ditanami tanaman sayuran seperti bawang daun, wortel, tomat, buncis, cabai, dll. Sebagian lahan Perhutani juga ditanami sayuran tetapi sebagian besar lahan Perhutani ditanami biji kopi. Namun kendalanya adalah jika kemarau tiba biasanya warga mengalami kekeringan.
Sektor penunjang yang potensial di Desa Warjabakti adalah sayuran. Hasil komoditi sayuran ini dikelola secara swadaya oleh warga dan keuntungannya dibagikan untuk bersama. Lahan pertanian yang dibuat oleh warga dimulai pada tahun 1999. Hingga akhirnya berkembang seperti sekarang. Hasil pertanian warga dijual dan dipasarkan ke daerah terdekat yaitu Banjaran dan Caringin. Sementara bagi lahan Perhutani, tanaman hasil pertanian yang potensial dan paling dominan adalah biji kopi. Sementara itu pengelolaan lahan Perhutani dan keuntungannya bagi pihak Perhutani.
Masalah desa yang terlihat dan sudah dialami warga adalah dari sektor pertanian yaitu adanya hama yang mengganggu kelancaran proses pertumbuhan tanaman di lahan pertanian, juga kekeringan pada saat musim kemarau tiba dan belum ditemukan solusinya, fasilitas jalan yang rusak yang menjadi jalur utama warga tidak seluruhnya rata, masih ada beberapa daerah yang jalannya rusak terutama jalan menuju sawah dan perkebunan. dan tingkat pendidikan warga yang masih rendah juga masih menjadi masalah di desa saat ini.
Berdasarkan kegiatan lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Sosiologi Universitas Padjadjaran dapat diketahu bahwa aspek informasi, pengetahuan lokal dan moral merupakan bagian penting untuk mencapai tujuan pembangunan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan merupakan kunci utama, masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang mandiri untuk mencari upaya-upaya perbaikan terhadap kondisi lingkungan masyarakat. Dalam pembangunan berbasis komunitas, masyarakat adalah mitra (rekan) yang ikut dalam proses perencanaan dan dapat menikmati hasil secara bersama-sama. Pembangunan akan berjalan lebih efektif dan efisien jika melibatkan berbagai stakeholder lembaga (lembaga pemerintahan, pertanian, peternakan, dan para akademisi), namun tetap memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang mandiri. Para akademisis hanya mengarahkan masyarakat agara dapat menemukan potensi dan mengembangkannya demi kesejahteraan bersama, dalam hal ini para akademisi berperan sebagai fasilitator (memfasilitasi masyarakat untuk menemukan cara membangun masyarakat). Sehingga pembangunan tidak menimbulkan ketergantungan pada masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan pemabangunan yang bersifat keberlanjutan (dalam jangka panjang manfaat dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat). Partisipasi masyarakat merupakan alat atau sarana untuk memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat sekitar.
Namun terdapat hal yang perlu diantisipasi yaitu saat penduduk lokal termarginalisasi akibat program tersebut. Akan terjadi dualisme, yaitu saat sektor modern dengan tradisional saling bertemu dan berinteraksi memiliki potensi konflik. Sehingga penulis menganjurkan adanya partisipasi masyarakat dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan untuk dapat menjaga keberlangsungan program dan berdampak positif bagi masyarakat.