Jum’at (05/06/2015) Prodi Sosiologi, yang diketuai oleh Drs. Wahyu Gunawan, M.Si mencoba memperkenalkan gagasan mantapnya, mengenai upaya pembangunan kawasan wisata pendidikan Jatinangor, melalui workshop-nya di Gedung A, Ruang dekanat,  Lantai 2 FISIP UNPAD.  Workshop ini sebagai salah satu rangkaian praktikum mahasiswa program studi Sosiologi 2014, yang menjadikan Desa Cipacing sebagai objek pengamatannya. Praktikum dan workshop ini juga terintegrasi dengan sebuah program pengabdian studi Sosiologi untuk desa Cipacing. Presentasi pertama dihantarkan oleh Drs. Wahyu Gunawan, M.Si selaku koorprodi Sosiologi FISIP UNPAD di hadapan seluruh peserta, ada perwakilan dari forum DAS wilayah Jatinangor, perwakilan dari media Agro Nusantara, satu orang warga pengrajin Cipacing, dan satu orang mahasiswa FTIP UNPAD yang sedang melakukan observasi di desa Cipacing, tidak ketinggalan, dosen dan seluruh mahasiswa prodi Sosiologi angkatan 2014.

    Pada bagian awal pemaparannya, Bpk. Wahyu menjelaskan mengenai kondisi Jatinangor pasca berdirinya industri pendidikan. Dimana Jatinangor ini telah berubah menjadi kota satelit yang mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat disekitarnya. Jatinangor juga telah menyediakan lahannya untuk dibangun deret kos-kosan, sehingga Jatinangor ini menjadi magnet yang dapat menarik seluruh perhatian masyarakat luar. Selain itu, secara gamblang Koprodi juga memaparkan dampak dari berdirinya industri pendidikan yang telah menciptakan daya tarik dan daya dorong sekaligus, di satu sisi industri pendidikan itu menarik pihak luar untuk masuk ke dalam, tapi di sisi lain Ia telah mendorong masyarakat asal untuk keluar “ini salah!” ungkapnya, “seharusnya, masyarakat asal itu ikut menikmati segala provit yang dihasilkan oleh industri pendidikan tersebut, bukan malah menjadi calo kosong!” sambungnya. Menurutnya, ide untuk membangun kawasan wisata pendidikan Jatinangor itu berangkat dari permasalahan tersebut. Dalam pemaparannya, beliau memperkenalkan gagasan kreatifnya untuk menjadikan Jatinangor sebagai kawasan wisata pendidikan, dimana ini adalah salah satu upaya untuk mengintegrasikan kampus dengan masyarakat dan menciptakan Jatinangor sebagai kota yang mempunyai daya tarik budaya.

    Masih menurut Koprodi, “Setiap tahun, selalu ada calon mahasiswa dan orang tuanya yang tertarik untuk berkunjung ke Jatinangor, tapi tujuannya hanya untuk melihat-lihat UNPAD saja, setelah itu, pulang! Kami merasa rugi, telah menghabiskan jutaan dana hanya untuk menyambut tamu seperti itu. Mengapa tamu itu tidak kita berdayakan untuk mendatangkan profit yang nantinya disalurkan kepada warga Jatinangor, seperti mengembangkan kerajinan khas Jatinangor khususnya di desa Cipacing, sehingga menjadikan calon mahasiswa dan orang tuanya yang berkunjung menjadi tertarik, tapi bukan pada UNPAD semata” tuturnya. Pemaparan Koprodi mendapatkan sambutan dari para tamu undangan, masing-masing dari mereka memberikan segala masukan berupa saran ataupun kritik terhadap gagasan prodi Soiologi tersebut.

    Presentasi kedua dilanjutkan oleh Zainal Muttaqin S.Sos, M.Si yang memaparkan mengenai nanodevelopment. Selang waktu istirahat, baru workshop dilanjutkan dengan presentasi dari para dosen untuk pembekalan mahasiswa prodi Sosiologi 2014, yang akan melakukan praktikum di desa Cipacing pada sabtu (06/06) keesokan harinya.