SEMINAR MASALAH SOSIAL NARKOBA: MENGKAJI DATA PERTUMBUHAN DAN BAHAYA SERTA BAGAIMANA SOSIOLOGI MEMANDANG (Jaringan Narkoba di Lingkungan Kampus)

Sabtu, 18 November 2017 – Gedung 3 Lt.3 FH UNPAD Jatinangor

Seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi Fisip Unpad pada 18 November 2017 lalu mengambil tema masalah sosial yang berfokus pada masalah narkoba, terselenggaranya seminar ini dlatarbelakangi oleh kesadaran terhadap bahaya narkoba dan kekhawatiran akan semakin menyebarnya penggunaan narkoba di masyarakat terutama kalangan usia produktif seperti mahasiswa. Dalam seminar ini, narkoba dibahas melalui berbagai perspektif, maka pembicara yang hadir pun terdiri dari berbagai latar belakang keahlian yang berbeda, ketiga pemateri tersebut diantaranya Drs.Mgs.Mulyadi, SH, MH, Edi Heryadi, M.Si, dan Dr. Bintarsih Sekarningrum, M.Si.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 120 peserta ini terdiri dari sesi penyampaian materi dan sesi diskusi. Pada sesi penyampaian materi, Drs.Mgs.Mulyadi, SH yakni seorang Kabagbin Operasional Dit Res Narkoba Polda Jabar diberikan kesempatan untuk menyampaikan materinya lebih dulu, alam kesempatannya, beliau menyampaikan mengenai narkoba dari sudut pandang penegak hukum dengan menyampaikan data-data mengenai penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam seminar yang terfokus pada remaja, Mulyadi menyampaikan bahwa sepanjang 2017 sudah terdapat 78 kasus narkoba yang pelakunya adalah remaja, terdiri dari pelajar dan mahasiswa, pada kasus-kasus tersebt sebagian besar adalah karena penyalahgunaan. Fenomena seperti ini sangat dikhawatirkan, karena disampaikan juga bahwa bisa saja seorang remaja tidak hanya terjerat dalam kasus penyalahgunaan saja, melainkan dapat terindikasi dalam beberapa kasus dimana remaja sebagai perantara ataupun penyalur peredaraan narkoba, atau bahkan termasuk pada sebuah kelompok penyedia. Menanggapi hal ini, Dit Res Narkoba memiliki tugas tersendiri untuk menanggulangi penyebaran narkoba, baik secara preventif atau represif. Selanjutnya, Mulyadi selaku penegak hukum mengajak masyarakat terutama mahasiswa yang hadir sebagai peserta seminar untuk mendukung dan bekerja sama dalam memberantas jaringan narkoba dengan cara melaporkan ketika mendapati orang sekitar atau kerabat melakukan tindakan-tindakan seperti penyalahgunaan atau bahkan peredaran.

Materi kedua disampaikan oleh Edi Heryadi, M.Si,. Beliau ini merupakan orang yang telah lama mengabdikan dirinya pada lembaga Badan Narkotika Nasional, yang sebelumnya tercata pada BNN Jabar dan sekarang sedang menjabat di BNN Kuningan. Dalam kesempatannya, dengan antusias beliau menyampaikan bahwa narkoba sangat merusak fisik individu dan kehidupan sosialnya, bahkan istilah “Indonesia Darurat Narkoba” beberapa kali digaungkan beliau. Istilah tersebut bukan tanpa alasan, dirinya menyampaikan karena beberapa faktor, misalnya pada faktor daya rusak, narkoba menurutnya memiliki daya rusak otak yang sangat tinggi dan tidak ada jaminan sembuh. Selain itu, mengapa Indonesia dikatakan darurat narkoba karena wilayah sebaran narkoba yang sudah sangat meluas sampai ke pelosok, kemudian kerugian-kerugian baik material maupun jiwa, karena dari data yang disampaikan bahwa terdapat 40-60 jiwa meninggal karena narkoba setiap harinya, belum lagi kerugian materi hingga triliun rupiah. Lalu terdapat data yang sangat mencengangkan mengapa Indonesia dianggap darurat narkoba, yakni karena terdapat aparatur negara yang semestinya bertugas untuk pemberantasan narkoba di Indonesia, namun dirinya justru menjadi pengguna bahkan pengedar, aparat-aparat tersebut diantaranya pegawai BNN, kepolisian, bahkan hakim. Masuk pada tema mengenai remaja, beliau menyampaikan bahwa sebesar 22%-25% kalangan pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjadi korban atau sasaran dari penyebaran narkoba, selain itu beliau juga menyampaikan beberapa kasus dari tahun 2012 mengenai penyalahgunaan dan penyebaran yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. Dalam fungsinya, beliau menyampaikan bahwa dirinya melakukan berbagai upaya seperti rehabilitas para pengguna.

Dari data yang telah disampaikan oleh kedua pembicara pertama, Dr. Bintarsih Sekarningrum, M.Si sebagai akademisi mencoba mengkaji dari sudut pandang sosiologi, yang fokus utamanya pada sebuah pembentukan jaringan. Sebelum memulai pada bagaimana jaringan narkoba di kalangan remaja terbentuk, beliau menyampaikan latar belakang dengan menegaskan bahwa narkoba sebagai masalah sosial apabila digunakan diluar kepentingan medis, lalu menjelaskan juga mengapa remaja cenderung terjerumus dalam hal tersebut, menurutnya dengan mengutip apa yang dikatakan Suwarno bahwa remaja (15-24 tahun) berada pada tahap yang labil dan sedang mencari jati diri. Disampaikan juga, bahwa menurutnya terdapat beberapa faktor mengapa penyalahgunaan narkoba terjadi, yakni karena faktor lingkungan, kelompok pergaulan, modernisasi dan ketidakpuasan individu terhadap sistem. Selanjutnya beliau menyampaikan mengenai beberapa jaringan sosial, dan untuk memahami serta mengidentifikasi pengguna narkoba dalam kelompok pertemanan, diperlukan kajian jaringan berbentuk dyadic relationship, triadic balance atau centrality, serta lebih lanjut dirinya menyampaikan mengenai analis jaringan untuk mengetahui struktur jaringan pertemanan remaja terutama dalam jaringan narkoba.

Dipenghujung acara, terdapat sesi tanya jawab dengan para pembicara, antusiasme peserta untuk mengetahui lebih dalam mengenai narkoba dan kajian sosiologisnya sangat terlihat dari banyaknya penanya, beberapa diantaranya menanyakan bagaimana prosedur pemberian rehabilitasi terhadap pengguna dan dasar hukum mengenai minuman oposan, kemudian yang paling menarik perhatian para pembicara adalah pertanyaan yang disampaikan Annadi Muhamad Alkaff seorang mahasiswa sosiologi Unpad yang menanyakan tentang legalitas ganja yang digunakan untuk pengobatan dengan dilatarbelakangi kasus yang pernah menimpa Fidelis, karena menurutnya terdapat beberapa negara yang telah melegalkan barang tersebut, namun Mulyadi sebagai seorang menegak hukum menjawab sekaligus menegaskan bahwa ganja merupakan barang terlarang, adapun untuk penggunaan sebagai pengobatan harus diketahui artinya tidak sembarangan menanamnya. Tidak hanya itu, pertanyaan mengenai penggunaan ganja dalam makanan di Aceh pun ditanyakan, yang selanjutnya dijawab oleh Dr. Bintarsih Sekarningrum, M.Si dari sudut pandang kultural masyarakat Aceh.